Ring Adalah Identitas
Jajang Wahyu Wibisana
http://wahyuwibisana.indonesiaz.com/
https://www.facebook.com/jajangwahyu.wibisana
https://www.facebook.com/jajang.wahyu
Selasa, 17 November 2015
Ini punya siapa ? Posted on May 27, 2014 by Mas Nino Salah satu jenis pertanyaan yang sering muncul adalah pelacakan identitas burung. Biasanya pertanyaannya mendampingi sebuah foto, disertai data nomor ring. Inti kalimatnya,”Ini punya siapa?” Biasanya lagi akan disertai kalimat pendukung sebagai “pelindung”, saya dapat dari pasar, saya dapat dari teman atau barusan masuk ke kandang saya. Kalimat “pelindung” akan menetralkan posisi sang penemu bahwa ini bukan hasil perolehan illegal. Akan bernuansa biasa bila memang tujuan kalimat pendukung tidak bermaksud melindungi motivasi terselubung. Soal motivasi pun, kalo ditelisik lebih dalam juga beragam. Ada yang mencari tahu asal kandang si burung. Kalo berasal pemain ternama tentu layak dipelihara. Kalo pun mau dijual tentu harganya bisa lebih tinggi. Nanti dalam iklan penjualannya, bisa dilampirkan keterangan “burung dari kandang pak Karyo Van Java”. Harapan lain yang terbesar, syukur-syukur sang pemilik melampirkan pedigree lengkap. Ah, ini sebenarnya harapan yang terlalu berlebihan. Analoginya, masa beli di pasar notanya minta di toko. Kadang yang bertanya sudah bisa meraba jawaban yang akan diperoleh. Tapi tetap saja dicoba, mana tahu bisa dapat pedigree-nya. Prinsipnya,”I have nothing to lose.” Motivasi lain adalah memperoleh tebusan dari pemilik asli. Ini kadang suka bikin tersenyum simpul pemain merpati pos. Karakteristik pemain merpati pos itu berbeda dengan pemain merpati balap (MB) atau merpati tinggian (MT). Pada MB dan MT, menebus burung yang hilang sudah menjadi bagian dari permainan. Beda dengan merpati pos dimana unsur ‘Homing’ menjadi salah satu karakteristik yang diseleksi. Saat burungnya tertangkap, hilang atau tidak pulang, pemain mpos tidak akan berharap ada yang mememukan dan mengembalikan. Karena secara umum berarti syarat ‘homming’ yang baik tidak terpenuhi.dan artinya burung tidak layak dipelihara. Kebanyakan akan menganggap, belum jodoh, burung tidak mau lagi dipelihara. Bila indukan sering menghasilkan anak-anak yang mudah hilang. Pada akhirnya indukannya pun akan terseleksi dari kandang. Mungkin saja akan ada yang beranggapan dan membela diri, bahwa motivasi terselubung yang negatif adalah tuduhan sepihak. Bahwa niatnya dengan tulus memang akan mengembalikan kepada pemilik asli. Kalo memang berniat mulia seperti itu rawat sejenak, beri makan dan minum yang cukup kemudian lepaskan. Biarlah si burung pulang ke kandang aslinya. Merpati pos yang baik pasti bisa pulang. Dan kalo ternyata dia kerasan di kandang kita, ini lain cerita. Burung tersebut memang berjodong dengan kita. Silahkan permisi kepada pemilik aslinya dan pasti akan direstui. Sekarang pertanyaannya,”Salahkah bertanya asal burung di forum terbuka?” Sudah pasti tidak akan salah jawabannya. Tapi mari kita tempatkan posisi kita pada sisi pemilik burung. Kemudian kita tambahkan setting latar dengan suasana pada masa lomba. Dengan semangat menggebu kita berlaga di suatu rute lomba. Pos demi pos kita lalui, berharap pasukannya bisa sampai finish pada pos terakhir. Tapi kenyataannya berbeda pos demi pos pun burung berguguran. Sebagian tidak bisa pulang dan hilang. Yang hilang ini adalah nilai kekalahan yang kita tanggung. Kecewa dan sedih jelas, karena tidak sesuai dengan harapan kita. Usaha kita menyiapakan burung yang untuk dilombakan menjadi tidak bernilai. Mulai memasangkan indukan, merawat piyik sampai melatih. Tidak sedikit waktu, perhatian dan tenaga yang tersita. Ditengah rasa kecewa dan sedih karena tidak berhasil menciptakan peserta lomba yang baik. Kemudian tiba-tiba ada yang posting dan bertanya tentang burung kita yang hilang? Apalagi pada susunan kalimatnya terbaca ada maksud terselubung. Bagaimana kira-kira perasaan pemilik burung? Jadi pertanyaannya bukan “Salahkan bertanya asal burung di forum terbuka?” Bukan masalah salah atau benar, tapi etis atau tidak. Berempatilah pada pemilik burung yang hatinya sedang galau dan gundah gulana. Paling tidak secara moral kita berkewajiban
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar